Di dalam dunia pesantren di Indonesia, ada satu kitab monumental yang banyak dihapal dan dikaji. Kitab itu adalah kitab yang kemudian dikenal sebagai “Alfiyah Ibnu Malik” di dunia, atau Kitab Kuning Alfiyah Ibnu Malik di Indonesia. Kitab yang ditulis oleh Ibnu Malik ini membahas soal kaidah ilmu Nahwu (sintaksis) serta Sharaf (morfologi).

Terdapat beberapa poin yang patut disorot di dalam Kitab Kuning Alfiyah Ibnu Malik, yaitu:

  1. Pada bagian mukadimah atau pendahuluan.

Penggunaan lafal fiil madhi, yaitu fiil (kata kerja) yang sudah dilakukan di masa madhi (masa yang sudah terjadi). Sementara itu, para msuanif kitab-kitab lain cenderung menggunakan lafal fiil mudhari’ yang fiil-nya dilakukan pada masa yang sedang terjadi, atau masa istiqbal (masa yang akan dilakukan). Hal ini menunjukkan tingginya kecerdasan Ibnu Malik. Karena pada masa Ibnu Malik menyusun kitab ini, 100 bait (nazam) yang ada di dalamnya telah tersimpan di dalam ingatannya.

  1. Menulis 1002 nazam, bukan 1000 nazam.

Kitab Kuning Alfiyah Ibnu Malik memiliki 1002 nazam, bukannya 1000 nazam sesuai dengan namanya, karena alfiyah berarti seribu. Hal ini karena  ketika dalam proses penulisan isinya yang telah Ibnu Malik ingat, ia terus menulis setiap kalimat hingga menjadi nazam dan seterusnya. Hanya saja, ketika ia mencapai nazam ke-5, tiba-tiba ingatannya hilang dan membuat Ibnu Malik kebingungan sehingga ia terpaksa menghentikan proses penulisannya.

Setelah itu, Ibnu Malik mengunjungi makan Ibnu Mu’thi, yaitu gurunya, dan membac tahlil, tahmid, dan takbir sampai ia tertidur. Dalam tidurnya, Ibnu Malik bermimpu bertentu dengan gurunya yang memberikan teguran soal adanya kesalahan dalam penulisannya sampai saat ini. Ibnu Malik pun terbangun dan seketika ia langsung teringat isi dari nazam terakhir yang ia tulis.

Rupanya, dalam nazam yang ia tulis, Ibnu Malik menyebutkan bahwa kitab yang ia susun akan mengungguli kitab Alfiyah Ibnu Mu’thi. Hal tersebut tidak sejalan dengan akhlakul karimah atau tata karma, terutama Ibnu Malik adalah murid dari Ibnu Mu’thi sehingga ia tak sepantasnya berbuat demikian.

Sebagai wujud penebusan dosanya dan permintaan maafnya atas ampunan dari Allah SWT serta Ibnu Mu’thi, Ibnu Malik pun menambahkan dua nazam. Pertama adalah nazam yang mengakui bahwa Ibnu Mu’thi tetap memiliki kelebihan serta pantas dipuji karena Ibnu Mu’thi telah lebih dulu menulis kitab Alfiyah dibandingkan Ibnu Malik. Kedua adalah doa Ibnu Malik agar Allah SWT melipatgandakan pahala yang diberikan kepadanya dan kepada Ibnu Mu’thi saat di akhirat nanti.

Setelah dua nazam tersebut selesai dituliskan, ingatan Ibnu Malik pun seketika kembali atas izin Allah SWT. Karenanya, ia pun bisa kembali meneruskan proses penyusunan kitab Alfiyah yang kemudian kita kenal Kitab Kuning Alfiyah Ibnu Malik sekarang.

Download Aplikasi: Kitab Kuning Alfiyah Ibnu Malik dan Terjemahan