Imam Syafi’I adalah satu dari empat imam besar fiqih yang ahli Al-Qur’an, hadits, ushul fiqih, fiqih, dan bahasa yang terkemuka pada masanya. Ia lahir di Palestina tahun 150 H dan wafat pada tahun 204 H. Setelah menjadi ulama besar, ia juga menjadi guru dari para ulama besar lainnya seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Az-Za’farani, Imam Al-Karabisi, dan Imam Abu Tsaur.

Selain keilmuannya yang luas dan tinggi, Imam Syafi’i juga merupakan imam mazhab pertama yang menuliskan ilmu ushul fiqih di dalam kitap tersendiri, serta menjadi peletak pondasi pertama ilmu tersebut.

Sebagai negara yang mayoritas muslimnya menganut mazhan Syafi’i, nama ulama besar ini tentu sudah tak lagi asing. Salah satunya adalah lewat Kitab Kuning Fiqih Imam Syafi’I, yang terutama dipelajari di pesantren.

Di dalam Kitab Kuning Fiqih Imam Syafi’I, dijelaskan bahwa ada 5 (lima) kaidah fiqih dasar yang dipandang ulama sebagai rujukan atas beragam isu fiqih. Di dalam mazhab Syafi’i, kelima kaidah tersebut merupakan hasil perampingan dari 17 kaidah gagasan Ad-Dabbas di dalam mazhab Hanafi.

Kelima kaidah fiqih di dalam mazhab Syafi’i adalah sebagai berikut:

  1. Al-umuru bi maqaashidiha, yaitu perbuatan bergantung pada niatnya.
  2. Al-yaqin la yuzalu bi asysyak, yaitu yakin tidak bisa dikalahkan oleh keragu-raguan.
  3. Al-masyaqqatu tajlib at-taisir, yaitu kesulitan mendatangkan keringanan.
  4. Ad-dharar yuzal, yaitu menghilangkan bahaya.
  5. Al-adatu muhakkamah, yaitu tradisi merupakan sumber hukum.

Kaidah pertama, yaitu perbuahan bergantung pada niatnya, merupakan kaidah yang dipandanga sangat mendasar di dalam hukum Islam. Landasan dari kaidah ini adalah hadits nabi, yaitu immaba al-a’malu bi an-niyyat. Pasalnya, setiap tindakan dari masing-masing muslim dibangun berdasarkan niat.

Niat juga membedakan amalan satu dengan amalan lain. Contohnya shalat wajib dan shalat sunah, maupun zakat dan sedekat. Niat juga merupakan penentu soal apakah amalan seseorang diterima atau tidak. Berdasarkan kesekatan Syafi’i, Ibnu Mahdi, Ahmad bin Hanbal, dan para ulama besar lainnya, niat disebut sebagai “sepertiga ilmu”.

Kitab Kuning Fiqih Imam Syafi’I menjelaskan bahwa rerangka dan prinsip mazhab Syafi’i memiliki dasar-dasar pokok berikut ini:

  1. Al-Qur’an yang ditafsir secara lahiriah dan selama tidak ada penegasan bahwa yang dimaksud bukanlah arti lahiriahnya. Semasa hidupnya, Imam Syafi’i selalu mencari alasan pertama kali dari Al-Qur’an ketika menetapkan hukum Islam.
  2. Sunnah Rasulullah SAW digunakan apabila tidak ada rujukan dari Al-Qur’an. Imam Syafi’i semasa hidupnya mendapatkan julukan “Pembela Sunnah Nabi” karena sangat kuat membela sunnah.
  3. Ijma’ atau kesepakatan Sahabat-Sahabat Nabi, bukan kesepakatan selutuh mujtahid pada waktu tertentu.
  4. Qiyas atau ijtihad, yang dirujuk apabila hukumnya tak juga ditemukan di dalam ijma’.

Download Aplikasi: Kitab Kuning Fiqih Imam Syafi’i Lengkap